Produsen sedang meninjau ulang jejak operasional karena rantai pasok tidak lagi ditentukan oleh biaya semata. Tarif atas barang Tiongkok, ketegangan geopolitik, dan gangguan sejak pandemi membuat risiko dan kontinuitas menjadi pusat keputusan pengadaan. Dalam berbagai panduan, China+1 didefinisikan sebagai mempertahankan China sebagai basis manufaktur inti sambil membangun kapasitas produksi sekunder atau cadangan di negara lain. Strategi ini juga diposisikan sebagai cara untuk mengurangi eksposur risiko, meningkatkan ketahanan, dan berekspansi secara global tanpa sepenuhnya meninggalkan China. Cara pandang ini penting untuk pemilihan lokasi, karena tujuannya adalah redundansi dan fleksibilitas—bukan sekadar pindah cepat ke pabrik berbiaya terendah.
Peran Indonesia dalam diskusi China+1 sering dikaitkan dengan realitas operasional di lapangan, bukan sekadar perbandingan upah. Salah satu briefing yang berfokus pada Indonesia menggambarkan perpindahan ini sebagai “transformasi mendasar” yang menuntut penyesuaian terhadap sistem regulasi baru, realitas operasional, dan dinamika budaya. Briefing tersebut menekankan bahwa tata kelola di Indonesia berlapis, mencakup otoritas nasional, provinsi, hingga lokal. Meski Omnibus Law Indonesia telah merampingkan perizinan, investor masih dapat menghadapi tumpang tindih regulasi dan perbedaan interpretasi antarwilayah. Di sisi lain, tinjauan diversifikasi yang lebih luas menyoroti insentif berorientasi ekspor di Indonesia seperti tax holiday, pembebasan PPN, dan manfaat kawasan berikat, yang dipadukan dengan proses regulasi yang lebih ringkas untuk menarik investasi asing langsung.
Realitas Pemilihan Lokasi: Lahan, Logistik, dan Waktu hingga Operasi Stabil
Dalam pemilihan lokasi, lahan dan perizinan bisa menjadi penentu jalur kritis. Di China, lahan industri cenderung lebih terstandar, tetapi di Indonesia kepemilikan lahan bisa terfragmentasi dan dipengaruhi klaim historis, sehingga verifikasi sertifikat dan kepatuhan zonasi pada lahan yang berdiri sendiri dapat memakan waktu. Briefing Indonesia menjelaskan mengapa banyak investor asing memilih kawasan industri yang sudah mapan: status hukum yang sudah bersih, infrastruktur siap bangun, dan profil risiko yang lebih rendah. Horizon perencanaan juga perlu realistis. Panduan China+1 lainnya mengingatkan bahwa membangun operasi manufaktur yang benar-benar layak di negara baru biasanya membutuhkan satu hingga dua tahun, termasuk kualifikasi pabrik, pengembangan pemasok, penyiapan logistik, dan penyelarasan sistem mutu.
Logistik dan ekosistem pemasok menjadi penyaring lain dalam pemilihan lokasi. Analisis tentang Indonesia menyebut biaya logistik di Indonesia secara struktural lebih tinggi dibanding China, dan perusahaan yang terbiasa dengan ekosistem pemasok China yang sangat rapat perlu menginvestasikan waktu untuk membangun kembali kedalaman rantai pasok. Rekomendasinya adalah berlokasi di koridor industri strategis, dengan menyebut koridor Jawa Barat untuk keandalan pasokan listrik yang lebih baik dan akses ke pelabuhan laut dalam seperti Patimban dan Tanjung Priok. Komentar China+1 lainnya menambahkan peringatan yang lebih umum: negara baru jarang mampu menyamai kedalaman rantai pasok hulu China, dan total biaya operasional sering kali lebih tinggi daripada yang tersirat dari perbandingan biaya tenaga kerja semata—sehingga kebutuhan koordinasi lokal dan manajemen di lapangan menjadi semakin besar.
Percepatan kesiapan tenaga kerja juga soal garis waktu, bukan hanya urusan HR. Briefing Indonesia menyatakan biaya tenaga kerja yang lebih rendah bisa menjadi daya tarik, tetapi produktivitas tinggi tidak terbentuk seketika, dan pelatihan vokasi belum tentu selaras dengan kebutuhan spesifik berteknologi tinggi. Briefing tersebut mengutip survei JETRO yang menunjukkan sering kali dibutuhkan dua hingga tiga tahun pelatihan intensif untuk menstabilkan produktivitas tenaga kerja. Ini sejalan dengan pandangan China+1 yang lebih luas bahwa konsistensi kualitas bisa memakan waktu lebih lama ketika bekerja dengan pemasok baru, dan diversifikasi bukan eksperimen “semusim” yang bisa dibatalkan dengan cepat. Bagi pengambil keputusan yang mengevaluasi jalur manufaktur Indonesia dalam skema China plus one, pendekatan paling dapat diandalkan adalah memodelkan peningkatan bertahap: mengkualifikasi pemasok, menstabilkan sistem mutu, dan membangun redundansi sambil tetap mempertahankan basis China yang kuat demi kesinambungan.
Apa arti strategi China+1 bagi produsen?
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membangun operasi manufaktur yang layak di negara baru dalam skema China+1?
Risiko pemilihan lokasi apa saja yang muncul di Indonesia saat pergeseran China+1?
Bagaimana perusahaan sebaiknya memandang kesiapan tenaga kerja di Indonesia?
Apa yang sebaiknya ditanyakan pembeli saat mengevaluasi Indonesia untuk rencana manufaktur China+1?
Bicarakan kebutuhan Anda dengan kami di:
-
Riset Pasar
-
Perencanaan Strategis
-
Strategi Masuk Pasar
-
Merger dan Akuisisi
-
Analisis Rantai Nilai
-
Pembandingan Kompetitif
-
Distribusi & Kemitraan Strategis
-
Analisis Perilaku Konsumen