Memetakan Pipeline Investasi Hotel dan Pariwisata Indonesia Setelah Euforia Pemulihan Pasca-Pandemi
/ Wawasan / Artikel / Memetakan Pipeline Investasi Hotel dan Pariwisata Indonesia Setelah Euforia Pemulihan Pasca-Pandemi

Memetakan Pipeline Investasi Hotel dan Pariwisata Indonesia Setelah Euforia Pemulihan Pasca-Pandemi

Dipublikasikan pada: 26 Jul 2026 | Penulis: Marketing & Communications

Prospek properti perhotelan (hospitality real estate) Indonesia kini ditentukan oleh pergeseran dari fase pemulihan menuju disiplin pipeline. Mordor Intelligence memperkirakan pasar hospitality real estate Indonesia tumbuh dari USD 2.44 billion pada 2025 menjadi USD 2.7 billion pada 2026, serta memproyeksikan USD 4.46 billion pada 2031, dengan CAGR 10.58% sepanjang 2026-2031. Lintasan ini ditopang sinyal permintaan yang terkait pembangunan jangka panjang, termasuk belanja infrastruktur pemerintah sebesar USD 25.5 billion pada 2025 dan berlanjutnya program Nusantara Capital City. Di saat yang sama, kontribusi pariwisata sebesar USD 72.5 billion terhadap PDB 2024 disebut sebagai penanda ketahanan pasca-pandemi yang dapat menjadi dasar perhitungan investor saat menilai di mana koridor hotel dan resor berikutnya berpotensi terbentuk.

Memahami Indonesia hotel investment pipeline juga menuntut kejelasan mengenai apa yang menghasilkan pendapatan hari ini versus apa yang diperkirakan tumbuh besok. Pada 2025, hotel memimpin berdasarkan jenis properti dengan pangsa pendapatan 71.64% dari pasar hospitality real estate Indonesia, menurut Mordor Intelligence. Hotel independen masih memegang porsi lebih besar berdasarkan tipe, yakni 62.85% pada 2025, sementara hotel jaringan diproyeksikan berekspansi pada CAGR 11.14% hingga 2031. Aset kelas menengah (midscale) merepresentasikan pangsa 41.78% pada 2025, namun pengembangan segmen mewah diperkirakan tumbuh pada CAGR 11.46% hingga 2031. Komposisi ini mengindikasikan pipeline yang terbelah: basis independen dan midscale yang besar dan sudah mapan, bersamaan dengan ekspektasi pertumbuhan yang lebih cepat pada format bermerek dan yang dipimpin segmen mewah.

2025 market revenue mix
2025 market revenue mix

Di Mana Koridor Berikutnya Terbentuk: Dari Jakarta ke “Rest of Indonesia”

Geografi menjadi penyaring penting lainnya untuk memetakan peluang yang layak diinvestasikan. Mordor Intelligence mencatat Jakarta meraih pangsa 27.14% pada 2025, sementara kategori “Rest of Indonesia” diperkirakan mencatat CAGR tercepat sebesar 11.74% hingga 2031. Sejumlah strategi destinasi yang didukung pemerintah memperkuat alasan investor mulai melirik di luar pusat-pusat tradisional. Mordor Intelligence menyoroti komitmen swasta di sektor perhotelan senilai USD 3.7 billion yang terkait program Nusantara Capital City. Laporan tersebut juga menyebut arus masuk USD 50.0 million ke hotel dan restoran di Sulawesi Utara sebagai contoh pergeseran modal menuju pulau-pulau yang sebelumnya kurang dikenal. HVS memotret ekspansi yang sama melalui pendekatan “10 New Balis”, dengan lima Super Priority Destinations: Lake Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang.

Pada level destinasi, HVS memberikan studi kasus yang konkret di Labuan Bajo. Investasi publik dan swasta sebesar IDR 4-6 trillion membantu mentransformasi infrastruktur di transportasi, utilitas, dan zona pariwisata. Indikator permintaan menunjukkan total pengunjung 2023 mencapai 424,000, dengan 2024 mencatat 411,000, dan HVS mencatat kedua tahun tersebut mencapai dua kali lipat angka 2019. Portofolio upscale yang sudah ada mencakup Labersa Hotel (152 keys), Hotel Niagara (170 keys), dan Taman Resort (130 keys). Namun HVS juga mengingatkan bahwa hingga 2025 belum ada proyek pipeline yang menonjol di bawah merek internasional yang diumumkan di sana—hal yang dapat menjadi pertimbangan bagi investor yang memprioritaskan kedalaman brand global, kemudahan pembiayaan yang lebih familiar, atau penyerapan permintaan yang didorong oleh merek.

Baca juga Tekanan Listrik dan Lahan Mendorong Ledakan Permintaan Daya Pusat Data di Indonesia

Di segmen puncak pasar, kinerja serta format real estat yang beririsan turut membentuk dasar perhitungan investasi. STR, seperti dikutip Hospitality Net dan InClover Magazine, melaporkan okupansi hotel mewah Indonesia untuk 12 bulan yang berakhir pada Maret 2026 telah kembali ke level pra-pandemi, sementara kelas hotel lainnya masih berada 5.5 poin persentase di bawah puncak sebelumnya. InClover juga menyatakan tarif hotel di Indonesia naik lebih dari 40% sejak 2019. ITX 2026 juga menyoroti branded residences di Bali, dengan riset C9 Hotelworks menunjukkan pipeline branded residences Asia mencapai IDR 707 trillion (sekitar USD 40 billion) di 50,025 unit, merepresentasikan pertumbuhan 30.3% secara year-on-year. Untuk pemetaan pipeline, kombinasi tersebut mengisyaratkan bahwa hotel mewah dan produk hunian bermerek dapat bergerak beriringan di lokasi-lokasi dengan permintaan internasional paling kuat.

Sinyal apa yang membentuk pipeline investasi hotel Indonesia setelah fase rebound?

Mordor Intelligence mengaitkan prospek pasar dengan belanja infrastruktur USD 25.5 billion pada 2025, program Nusantara Capital City, serta kontribusi pariwisata sebesar USD 72.5 billion terhadap PDB 2024. Laporan itu juga menyoroti komitmen swasta di sektor perhotelan yang terkait Nusantara.

Segmen hotel mana yang memimpin saat ini, dan mana yang diproyeksikan tumbuh lebih cepat?

Pada 2025, hotel memimpin dengan pangsa pendapatan 71.64%, dan hotel independen memegang pangsa 62.85%. Hotel jaringan diproyeksikan berekspansi pada CAGR 11.14% hingga 2031, sementara pengembangan segmen mewah diperkirakan tumbuh pada CAGR 11.46% hingga 2031.

Bagaimana gambaran geografi pertumbuhan di seluruh Indonesia?

Jakarta meraih pangsa 27.14% pada 2025, sementara “Rest of Indonesia” diproyeksikan menjadi wilayah dengan pertumbuhan tercepat pada CAGR 11.74% hingga 2031, menurut Mordor Intelligence.

Apa yang disampaikan Labuan Bajo kepada investor tentang pertumbuhan yang digerakkan destinasi?

HVS melaporkan investasi publik dan swasta sebesar IDR 4-6 trillion serta total pengunjung 424,000 pada 2023 dan 411,000 pada 2024, di mana kedua tahun tersebut mencapai dua kali lipat angka 2019. HVS juga mencatat bahwa hingga 2025, belum ada proyek pipeline bermerek internasional yang menonjol diumumkan di sana.

Apa implikasi pemulihan segmen mewah terhadap keputusan pengembangan hotel ke depan?

Data STR yang dikutip Hospitality Net dan InClover menyebut okupansi hotel mewah kembali ke level pra-pandemi untuk 12 bulan yang berakhir pada Maret 2026, sementara kelas lainnya masih 5.5 poin persentase di bawah puncak sebelumnya. InClover juga menyatakan tarif hotel di Indonesia naik lebih dari 40% sejak 2019.

Buka potensi bisnis Anda di pasar yang dinamis bersama layanan konsultasi ahli kami.

Dengan lebih dari 40 tahun keunggulan, kami menghadirkan solusi inovatif yang disesuaikan dengan kebutuhan Anda.

Hubungi Kami Hari Ini
Hubungi Kami Hari Ini

/ Hubungi Kami

Mari diskusikan bagaimana kami dapat mendukung rencana ekspansi pasar Anda di Indonesia.

 

  • Tidak ada hasil ditemukan

Situs ini dilindungi oleh reCAPTCHA dan Google Kebijakan Privasi dan Ketentuan Layanan berlaku.