Bagi tim deal yang memantau tren M&A Indonesia 2026, sinyal yang paling jelas adalah terbelahnya pasar global antara transaksi berukuran sangat besar dan segmen middle market yang lebih tertekan. Outlook tengah tahun PwC untuk 2026 menyebut nilai transaksi global diperkirakan mencapai $4tn pada 2026, naik sekitar 13% dibanding tahun sebelumnya, meski volume transaksi justru menurun. PwC juga mencatat transaksi di atas $5bn sejauh tahun ini menyumbang hampir setengah dari total nilai transaksi global—dua kali lipat dibanding porsi mereka dua tahun lalu. Pola global yang “berbentuk K” ini penting bagi modal yang mengincar Indonesia karena memengaruhi berapa harga yang sanggup dibayar pembeli, bagaimana mereka membiayai transaksi, dan narasi strategis mana yang paling banyak mendapat perhatian.
Sumber-sumber yang spesifik Indonesia menjelaskan mengapa perusahaan tetap menggunakan M&A bahkan ketika harga dan pembiayaan terasa makin menantang. Cekindo menyebut perusahaan di Indonesia memanfaatkan M&A untuk memperluas basis pelanggan dan meningkatkan efisiensi operasional, serta mengaitkannya dengan pasar domestik yang kuat, digitalisasi yang cepat, dan lanskap regulasi yang terus berkembang. Cekindo juga menekankan bahwa struktur transaksi membentuk bagaimana kepemilikan dialihkan, bagaimana risiko dikelola, dan bagaimana kontrol diperoleh—dan bahwa “opsi terbaik” bergantung pada tujuan investor, industrinya, serta aturan lokal tentang kepemilikan asing. Panduan mendalam Lexology tentang Indonesia menyoroti bahwa hasil M&A sangat terkait dengan kerangka hukum dan regulasi, menegaskan bahwa pekerjaan valuasi di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari kelayakan eksekusinya.
2026 Valuation Drivers: Skala, Eksposur AI, dan Risiko Eksekusi
Pada 2026, diskusi valuasi makin dibentuk oleh ekonomi “supersize” dan prioritas infrastruktur yang terkait AI di tingkat global. PwC menyebut hanya empat perusahaan—Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft—diperkirakan akan membelanjakan lebih dari $700bn pada 2026 untuk membangun infrastruktur AI. Dalam outlook yang sama, PwC menyatakan AI mengalihkan arus modal ke data centre, listrik, dan infrastruktur jaringan (grid) sekaligus memaksa pembeli menilai ulang sektor dan model bisnis mana yang paling rentan terdampak disrupsi. Untuk transaksi yang menarget Indonesia, hal ini menjadi pendorong valuasi yang nyata: pembeli bisa bersedia membayar lebih untuk aset yang mendukung ketahanan, skala, dan transformasi strategis, namun menerapkan diskon lebih besar ketika model bisnis terlihat rentan terhadap perubahan yang dipicu AI atau ketika eksekusinya menuntut modal langka.
Perbandingan global juga menunjukkan seperti apa ukuran “besar” dan seberapa kuat dampaknya terhadap rata-rata pasar—berguna saat menyusun ekspektasi untuk proses transaksi di Indonesia. Dealroom merangkum bahwa total nilai transaksi global naik 12% pada 2024 menjadi $3.4 trillion, dan nilai rata-rata transaksi global naik 4% menjadi $443 million. Dealroom juga mencatat transaksi bernilai $2 billion atau lebih naik 20% dibanding tahun sebelumnya pada 2024, meskipun jumlah transaksi secara keseluruhan menurun. PwC menambahkan bahwa jika megadeal dikeluarkan, nilai transaksi 2026 justru turun 4%, sementara nilai megadeal diperkirakan meningkat 40% secara tahunan jika laju saat ini berlanjut. Implikasi praktisnya: rentang valuasi dapat makin melebar, dengan harga premium terkonsentrasi pada lebih sedikit transaksi yang lebih besar dan dibingkai dengan alasan strategis yang kuat.
Eksekusi dan due diligence juga semakin menjadi pendorong valuasi, bukan sekadar tahapan prosedural. PwC menyebut kemampuan untuk menyederhanakan dan mempercepat proses transaksi sudah tersedia, mencakup penyaringan target, due diligence, valuasi, hingga penciptaan nilai. TCF Indonesia menekankan due diligence sangat krusial karena menilai kondisi finansial, komersial, regulasi, dan aspek lain dari kandidat merger potensial serta membantu mengkuantifikasi risiko apabila target tidak tercapai. Jika digabungkan dengan poin Cekindo bahwa struktur transaksi menentukan alokasi risiko dan kontrol, valuasi di Indonesia pada 2026 kemungkinan akan sangat bergantung pada seberapa cepat para pihak dapat memvalidasi asumsi, mengatasi kendala regulasi dan kepemilikan asing, serta menurunkan ketidakpastian yang bila dibiarkan akan berubah menjadi diskon harga.
Bagaimana gambaran besar prospek pasar M&A Indonesia pada 2026?
Bagaimana megadeal memengaruhi valuasi yang relevan untuk transaksi di Indonesia?
Pendorong valuasi apa yang paling terkait dengan AI pada 2026?
Mengapa struktur transaksi penting dalam penentuan harga M&A di Indonesia?
Bagaimana pembeli sebaiknya menyikapi tren M&A Indonesia pada 2026 saat melakukan due diligence?
Bicarakan kebutuhan Anda dengan kami di:
-
Riset Pasar
-
Perencanaan Strategis
-
Strategi Masuk Pasar
-
Merger dan Akuisisi
-
Analisis Rantai Nilai
-
Pembandingan Kompetitif
-
Distribusi & Kemitraan Strategis
-
Analisis Perilaku Konsumen