Merger dan Akuisisi di Indonesia: Tren Transaksi 2026 dan Pendorong Valuasi
/ Wawasan / Artikel / Merger dan Akuisisi di Indonesia: Tren Transaksi 2026 dan Pendorong Valuasi

Merger dan Akuisisi di Indonesia: Tren Transaksi 2026 dan Pendorong Valuasi

Dipublikasikan pada: 20 Jun 2026 | Penulis: Marketing & Communications

Bagi tim deal yang memantau tren M&A Indonesia 2026, sinyal yang paling jelas adalah terbelahnya pasar global antara transaksi berukuran sangat besar dan segmen middle market yang lebih tertekan. Outlook tengah tahun PwC untuk 2026 menyebut nilai transaksi global diperkirakan mencapai $4tn pada 2026, naik sekitar 13% dibanding tahun sebelumnya, meski volume transaksi justru menurun. PwC juga mencatat transaksi di atas $5bn sejauh tahun ini menyumbang hampir setengah dari total nilai transaksi global—dua kali lipat dibanding porsi mereka dua tahun lalu. Pola global yang “berbentuk K” ini penting bagi modal yang mengincar Indonesia karena memengaruhi berapa harga yang sanggup dibayar pembeli, bagaimana mereka membiayai transaksi, dan narasi strategis mana yang paling banyak mendapat perhatian.

Sumber-sumber yang spesifik Indonesia menjelaskan mengapa perusahaan tetap menggunakan M&A bahkan ketika harga dan pembiayaan terasa makin menantang. Cekindo menyebut perusahaan di Indonesia memanfaatkan M&A untuk memperluas basis pelanggan dan meningkatkan efisiensi operasional, serta mengaitkannya dengan pasar domestik yang kuat, digitalisasi yang cepat, dan lanskap regulasi yang terus berkembang. Cekindo juga menekankan bahwa struktur transaksi membentuk bagaimana kepemilikan dialihkan, bagaimana risiko dikelola, dan bagaimana kontrol diperoleh—dan bahwa “opsi terbaik” bergantung pada tujuan investor, industrinya, serta aturan lokal tentang kepemilikan asing. Panduan mendalam Lexology tentang Indonesia menyoroti bahwa hasil M&A sangat terkait dengan kerangka hukum dan regulasi, menegaskan bahwa pekerjaan valuasi di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari kelayakan eksekusinya.

2026 Valuation Drivers: Skala, Eksposur AI, dan Risiko Eksekusi

Pada 2026, diskusi valuasi makin dibentuk oleh ekonomi “supersize” dan prioritas infrastruktur yang terkait AI di tingkat global. PwC menyebut hanya empat perusahaan—Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft—diperkirakan akan membelanjakan lebih dari $700bn pada 2026 untuk membangun infrastruktur AI. Dalam outlook yang sama, PwC menyatakan AI mengalihkan arus modal ke data centre, listrik, dan infrastruktur jaringan (grid) sekaligus memaksa pembeli menilai ulang sektor dan model bisnis mana yang paling rentan terdampak disrupsi. Untuk transaksi yang menarget Indonesia, hal ini menjadi pendorong valuasi yang nyata: pembeli bisa bersedia membayar lebih untuk aset yang mendukung ketahanan, skala, dan transformasi strategis, namun menerapkan diskon lebih besar ketika model bisnis terlihat rentan terhadap perubahan yang dipicu AI atau ketika eksekusinya menuntut modal langka.

Perbandingan global juga menunjukkan seperti apa ukuran “besar” dan seberapa kuat dampaknya terhadap rata-rata pasar—berguna saat menyusun ekspektasi untuk proses transaksi di Indonesia. Dealroom merangkum bahwa total nilai transaksi global naik 12% pada 2024 menjadi $3.4 trillion, dan nilai rata-rata transaksi global naik 4% menjadi $443 million. Dealroom juga mencatat transaksi bernilai $2 billion atau lebih naik 20% dibanding tahun sebelumnya pada 2024, meskipun jumlah transaksi secara keseluruhan menurun. PwC menambahkan bahwa jika megadeal dikeluarkan, nilai transaksi 2026 justru turun 4%, sementara nilai megadeal diperkirakan meningkat 40% secara tahunan jika laju saat ini berlanjut. Implikasi praktisnya: rentang valuasi dapat makin melebar, dengan harga premium terkonsentrasi pada lebih sedikit transaksi yang lebih besar dan dibingkai dengan alasan strategis yang kuat.

Read also Mendirikan PT PMA di Indonesia: Panduan Jelas dan Mantap untuk Pendaftaran Perusahaan Asing

Eksekusi dan due diligence juga semakin menjadi pendorong valuasi, bukan sekadar tahapan prosedural. PwC menyebut kemampuan untuk menyederhanakan dan mempercepat proses transaksi sudah tersedia, mencakup penyaringan target, due diligence, valuasi, hingga penciptaan nilai. TCF Indonesia menekankan due diligence sangat krusial karena menilai kondisi finansial, komersial, regulasi, dan aspek lain dari kandidat merger potensial serta membantu mengkuantifikasi risiko apabila target tidak tercapai. Jika digabungkan dengan poin Cekindo bahwa struktur transaksi menentukan alokasi risiko dan kontrol, valuasi di Indonesia pada 2026 kemungkinan akan sangat bergantung pada seberapa cepat para pihak dapat memvalidasi asumsi, mengatasi kendala regulasi dan kepemilikan asing, serta menurunkan ketidakpastian yang bila dibiarkan akan berubah menjadi diskon harga.

Bagaimana gambaran besar prospek pasar M&A Indonesia pada 2026?

Sinyal global mengarah pada pasar berbentuk K, di mana transaksi berukuran sangat besar mendorong nilai, sementara banyak transaksi mid-market menghadapi keterbatasan. PwC menyebut nilai transaksi global diperkirakan mencapai $4tn pada 2026, naik sekitar 13% dibanding tahun sebelumnya, meski volume transaksi menurun.

Bagaimana megadeal memengaruhi valuasi yang relevan untuk transaksi di Indonesia?

PwC mencatat transaksi di atas $5bn menyumbang hampir setengah dari total nilai transaksi global sejauh 2026, dua kali lipat dibanding porsinya dua tahun lalu. PwC juga menyatakan bahwa jika megadeal dikeluarkan, nilai transaksi turun 4%, menunjukkan betapa terkonsentrasinya premi harga.

Pendorong valuasi apa yang paling terkait dengan AI pada 2026?

PwC menyebut AI mengalihkan modal ke data centre, listrik, dan infrastruktur jaringan (grid) serta memaksa pembeli menilai ulang seberapa rentan bisnis terhadap disrupsi. PwC juga menyatakan empat perusahaan—Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft—diperkirakan membelanjakan lebih dari $700bn pada 2026 untuk infrastruktur AI.

Mengapa struktur transaksi penting dalam penentuan harga M&A di Indonesia?

Cekindo menyebut struktur transaksi berperan kunci dalam cara kepemilikan dialihkan, risiko dikelola, dan kontrol diperoleh, serta bahwa opsi terbaik bergantung pada tujuan, industri, dan regulasi lokal terkait kepemilikan asing. Pilihan-pilihan ini memengaruhi kepastian eksekusi dan pada akhirnya berdampak pada valuasi.

Bagaimana pembeli sebaiknya menyikapi tren M&A Indonesia pada 2026 saat melakukan due diligence?

PwC menyebut teknologi dapat merampingkan tahapan transaksi termasuk due diligence, valuasi, dan penciptaan nilai. TCF Indonesia menambahkan bahwa due diligence krusial untuk mengevaluasi kondisi finansial, komersial, dan regulasi para pihak serta mengkuantifikasi risiko tidak tercapainya target.

Buka potensi bisnis Anda di pasar yang dinamis bersama layanan konsultasi ahli kami.

Dengan lebih dari 40 tahun keunggulan, kami menghadirkan solusi inovatif yang disesuaikan dengan kebutuhan Anda.

Hubungi Kami Hari Ini
Hubungi Kami Hari Ini

/ Hubungi Kami

Mari diskusikan bagaimana kami dapat mendukung rencana ekspansi pasar Anda di Indonesia.

 

  • Tidak ada hasil ditemukan