Investor asing menaruh perhatian pada dorongan waste-to-energy di Indonesia karena Danantara mengemasnya sebagai program yang bisa direplikasi dan dibiayai, bukan sekadar proyek pembangkit tunggal. Pimpinan Danantara menyatakan mereka mengejar fasilitas waste-to-energy di seluruh Indonesia secara bertahap, dimulai dari gelombang pertama di tujuh kota prioritas. Kota-kota itu meliputi Bali, Bogor, Tangerang, Semarang, Medan, Bekasi, dan Yogyakarta. Program ini secara tegas diposisikan sebagai jawaban atas persoalan sampah yang terlihat nyata dan berdampak pada pariwisata, dan Presiden Prabowo Subianto telah mendorong Danantara untuk segera meluncurkannya. Bagi investor, kombinasi urgensi politik, pipeline kota yang sudah jelas, serta pendekatan yang distandardisasi mengurangi ketidakpastian saat menilai kesiapan proyek.
Daya tarik lainnya adalah cara Danantara menjelaskan kepemilikan dan pembagian risiko. Chief investment officer Pandu Sjahrir mengatakan Danantara ingin memegang setidaknya 30 persen saham di setiap proyek, sekaligus tetap fleksibel jika mitra lebih memilih Danantara mengambil 51 persen atau lebih. Indonesia juga mencari pembiayaan utang untuk menutup 70 persen biaya, dengan sisanya berasal dari ekuitas. Model ini berulang kali muncul di berbagai laporan: kebutuhan investasi per pabrik disebut berada di kisaran Rp 2.5 trillion hingga Rp 3.2 trillion, dan tiap fasilitas direncanakan mengolah lebih dari 1,000 ton sampah per hari. Pandu juga menggambarkan internal rate of return berada di level “high single digit,” yang membantu menjelaskan mengapa pemberi pinjaman dan pengembang terus mengitari program ini.

Apa yang Membuat Program Ini Bankable bagi Modal Internasional
Minat asing juga mencerminkan besarnya skala dan struktur di balik rencana nasional tersebut. Inisiatif waste-to-energy menargetkan 33 pabrik dengan nilai gabungan Rp 91 trillion, dan Danantara telah membentuk kendaraan khusus untuk memusatkan eksekusinya. The Jakarta Post melaporkan bahwa Danantara mendirikan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) pada 1 April sebagai entitas holding untuk seluruh proyek waste-to-energy, yang dirancang untuk memusatkan investasi, pengembangan, dan operasional. Fadli Rahman, pemimpin waste-to-energy Danantara, mengatakan Denera akan mengendalikan baik porsi ekuitas maupun operasional untuk seluruh aset waste-to-energy milik Danantara. Struktur platform semacam ini bisa memudahkan proses due diligence bagi pihak luar, karena memperjelas siapa operator aset dan bagaimana tata kelola dikelola lintas banyak lokasi.
Tender dan pipeline mitra juga menjadi alasan program ini terus menarik perhatian lintas negara. SUPRA International melaporkan bahwa tender gelombang pertama untuk tujuh kota prioritas diluncurkan pada 6 November 2025, dan menarik 240 pendaftaran investor, termasuk 24 perusahaan internasional yang telah lolos pra-kualifikasi. Jakarta Globe juga menyebut Danantara menyaring 24 perusahaan sebagai kandidat mitra teknologi dan mencatat bahwa perusahaan asing mendominasi daftar tersebut, sambil mengakui adanya minat pemberi pinjaman dari Singapura, Jepang, China, dan Eropa. Indonesia Business Post menambahkan bahwa 24 perusahaan asing dari China, Hong Kong, Prancis, dan Jepang masuk ke tender tahap pertama. Tempo secara terpisah melaporkan CEO Danantara menyatakan lebih dari 204 investor asing tertarik pada proyek ini, menegaskan besarnya peluang yang tersedia.
Terakhir, sisi pembiayaan menawarkan beberapa daya tarik yang relevan bagi pemberi pinjaman maupun mitra ekuitas. Danantara menyatakan tetap berencana menggunakan sebagian dana dari “patriot bonds” yang disebut sudah terserap penuh, dengan target penghimpunan sekitar Rp 50 trillion (US$3 billion). SUPRA International menguraikan kerangka pembiayaan keseluruhan di mana kebutuhan ekuitas mendekati IDR 27.3 trillion, mewakili 30 persen dari program IDR 91 trillion, bersama utang project finance total IDR 63.7 trillion. Laporan itu juga menyebut Danantara akan berkomitmen minimal 30 persen partisipasi ekuitas langsung (IDR 8.2 trillion), sementara sisa ekuitas berasal dari pengembang swasta dan penyedia teknologi yang dipilih melalui tender kompetitif. Dalam konteks ini, narasi investasi waste-to-energy Danantara menjadi mudah dipahami: kepemilikan yang terdefinisi, pendanaan hibrida, dan platform yang terus berkembang—yang juga pernah dibahas Danantara untuk berpotensi melantai di bursa pada 2028.
Mengapa pemberi pinjaman dan investor asing tertarik pada program waste-to-energy Danantara?
Berapa jumlah pabrik yang direncanakan dan berapa nilai total programnya?
Berapa biaya tipikal dan skala pengolahan sampah di setiap fasilitas?
Apa itu Denera dan mengapa penting bagi investor?
Bagaimana model investasi waste-to-energy Danantara membagi pendanaan dan kepemilikan?
Bicarakan kebutuhan Anda dengan kami di:
-
Riset Pasar
-
Perencanaan Strategis
-
Strategi Masuk Pasar
-
Merger dan Akuisisi
-
Analisis Rantai Nilai
-
Pembandingan Kompetitif
-
Distribusi & Kemitraan Strategis
-
Analisis Perilaku Konsumen