Mengapa Raksasa Farmasi Global Berbondong-bondong Masuk ke Pertumbuhan Investasi Farmasi di Indonesia
/ Wawasan / Artikel / Mengapa Raksasa Farmasi Global Berbondong-bondong Masuk ke Pertumbuhan Investasi Farmasi di Indonesia

Mengapa Raksasa Farmasi Global Berbondong-bondong Masuk ke Pertumbuhan Investasi Farmasi di Indonesia

Dipublikasikan pada: 24 Jul 2026 | Penulis: Marketing & Communications

Indonesia makin sulit diabaikan oleh kelompok farmasi global karena cerita permintaannya kian jelas, dan semakin mengarah pada strategi produksi lokal. Skylight memperkirakan pasar farmasi Indonesia mencapai USD 11 miliar pada 2025, dan menyebut angka ini setara dengan 30–35% dari total belanja farmasi ASEAN. Skylight juga mencatat bahwa Indonesia menjadi pasar farmasi terbesar ketiga di ASEAN berdasarkan nilai pada periode 2020 hingga 2025, seiring sektor ini pulih dan melampaui laju pertumbuhan sebelum pandemi. Bagi produsen, kombinasi skala, momentum, dan relevansi regional tersebut membantu menjelaskan mengapa pemain internasional meningkatkan fokus manufakturnya di Indonesia.

Daya tarik kedua adalah bagaimana permintaan dibentuk oleh pengadaan, terutama untuk obat generik, yang dapat mendorong tingkat utilisasi tinggi setelah pemasok dinyatakan memenuhi kualifikasi. Skylight menyebut satu kanal menyumbang 55% dari total konsumsi obat dan membeli generik dengan harga 40–60% lebih rendah dibanding ritel. Dinamika ini “menjamin stabilitas volume”, namun juga menekan margin, sehingga mendorong perusahaan mencari efisiensi manufaktur dan ketahanan pasok lokal. Laporan obat generik dari IndexBox juga menggambarkan segmentasi permintaan berdasarkan kanal pengadaan, dengan menyoroti tender publik berskala besar untuk obat esensial yang dijalankan melalui Kementerian Kesehatan dan BPJS (JKN). Bagi perusahaan global dan mitranya, tender yang dapat diprediksi dapat memberi keuntungan bagi manufaktur yang terlokalisasi dan kesiapan kepatuhan.

Apa yang Membuat Manufaktur Lokal Menjadi Taruhan Strategis di Indonesia

Arah kebijakan dan regulasi Indonesia menjadi alasan lain mengapa lebih banyak modal mengalir ke penguatan kemampuan manufaktur domestik. Ringkasan pasar manufaktur dari Ken Research mengaitkan pertumbuhan dengan meningkatnya permintaan obat generik, inisiatif pemerintah untuk produksi lokal, naiknya belanja kesehatan, serta perluasan cakupan asuransi kesehatan. Sumber yang sama juga menyoroti standar pengendalian mutu yang semakin ketat dan penerapan sertifikasi Halal sebagai bagian dari lanskap regulasi yang terus berkembang, di samping kebijakan yang mendukung manufaktur lokal. Perubahan ini menguntungkan perusahaan yang berinvestasi lebih awal pada pabrik yang patuh regulasi, rantai pasok yang terkualifikasi, dan transformasi digital dalam proses manufaktur, ketimbang hanya mengandalkan impor produk jadi.

Sinyal terkuat bahwa Indonesia serius memperdalam manufaktur adalah dorongan ke arah API. Laporan pasar API dari Ken Research mencantumkan kuatnya dukungan pemerintah terhadap manufaktur farmasi lokal sebagai salah satu pendorong utama pasar. Laporan tersebut juga menyebut PT Kalbe Farma Tbk mengumumkan investasi sebesar USD 150 juta pada 2023 untuk memperluas kapabilitas manufaktur API. Selain itu, disebutkan bahwa pada 2024 pemerintah Indonesia membentuk kemitraan dengan organisasi kesehatan global dan mengamankan pendanaan sebesar IDR 100 miliar untuk mendukung manufaktur API lokal. Bagi perusahaan farmasi global, langkah-langkah ini menunjukkan bahwa basis industri Indonesia sedang diperkuat dari sisi hulu, membuka opsi kemitraan baru dan mengurangi ketergantungan pada satu sumber pasokan API dari luar.

Baca juga Ekonomi Halal Indonesia: Di Mana Peluang Pasar Halal Indonesia yang Paling Nyata Saat Ini

Tekanan biaya dan daya saing menambah urgensi pada investasi semacam ini, sekaligus memperkuat logika untuk memproduksi lebih dekat dengan sumber permintaan. Skylight mencatat bahwa pada 2023, perbedaan harga untuk beberapa obat penyakit kronis antara Indonesia dan Malaysia mencapai +20–30% berpihak pada Malaysia, meski diproduksi oleh perusahaan yang serupa. Sumber yang sama merinci porsi permintaan berdasarkan terapi: kardiovaskular 14%, anti-diabetik 10%, respiratori 8%, onkologi 5%, dan lainnya (termasuk vitamin) 45%. Kategori yang besar dan stabil ini selaras dengan lingkungan pengadaan yang didominasi generik dan membantu menjelaskan gelombang pertumbuhan investasi farmasi di Indonesia saat ini, ketika pemain global menimbang keputusan membangun fasilitas sendiri versus bermitra untuk memenangkan tender, mengelola kepatuhan, dan bersaing dari sisi biaya.

Mengapa perusahaan farmasi global meningkatkan taruhan manufaktur di Indonesia?

Skylight memperkirakan pasar farmasi Indonesia mencapai USD 11 miliar pada 2025 dan menyebutnya mewakili 30–35% belanja farmasi ASEAN. Pengadaan publik berskala besar serta dukungan pemerintah untuk produksi lokal juga membuat investasi manufaktur menjadi semakin strategis.

Bagaimana pengadaan publik memengaruhi manufaktur obat generik di Indonesia?

Skylight menyebut satu kanal menyumbang 55% dari total konsumsi obat dan membeli generik dengan harga 40–60% lebih rendah dibanding ritel, sehingga mendukung stabilitas volume namun menekan margin. IndexBox juga menyoroti tender publik berskala besar untuk obat esensial melalui Kementerian Kesehatan dan BPJS (JKN).

Sinyal investasi atau pendanaan API terbaru apa yang mendukung produksi lokal?

Ken Research melaporkan PT Kalbe Farma Tbk mengumumkan investasi USD 150 juta pada 2023 untuk memperluas kapabilitas manufaktur API. Ken Research juga melaporkan bahwa pada 2024 pemerintah mengamankan pendanaan IDR 100 miliar bersama organisasi kesehatan global untuk mendukung manufaktur API lokal.

Seperti apa pertumbuhan investasi farmasi di Indonesia dalam praktiknya?

Ini mencakup ekspansi manufaktur yang didorong permintaan generik, tender publik, serta pembangunan kapabilitas API di sisi hulu. Contoh yang disebutkan antara lain investasi USD 150 juta dari PT Kalbe Farma Tbk untuk ekspansi API dan pendanaan IDR 100 miliar pada 2024 untuk mendukung manufaktur API lokal.

Area terapi mana yang mengambil porsi besar konsumsi obat di Indonesia?

Skylight mencantumkan kardiovaskular 14%, anti-diabetik 10%, respiratori 8%, onkologi 5%, dan lainnya (termasuk vitamin) 45%. Kategori-kategori ini selaras dengan lingkungan pengadaan yang menekankan obat esensial dan generik.

Buka potensi bisnis Anda di pasar yang dinamis bersama layanan konsultasi ahli kami.

Dengan lebih dari 40 tahun keunggulan, kami menghadirkan solusi inovatif yang disesuaikan dengan kebutuhan Anda.

Hubungi Kami Hari Ini
Hubungi Kami Hari Ini

/ Hubungi Kami

Mari diskusikan bagaimana kami dapat mendukung rencana ekspansi pasar Anda di Indonesia.

 

  • Tidak ada hasil ditemukan

Situs ini dilindungi oleh reCAPTCHA dan Google Kebijakan Privasi dan Ketentuan Layanan berlaku.