Bagi perusahaan multinasional, Indonesia bisa tampak sangat menarik hanya dari angka-angka besar di permukaan. Salah satu panduan tentang Indonesia menyebut populasi 284 juta, pertumbuhan PDB sekitar 5.11 persen year-on-year pada 2025, serta ekonomi digital yang menghasilkan estimasi US$ 99 miliar dalam gross merchandise value. Namun sumber yang sama juga mengingatkan bahwa ekspansi yang didorong narasi—bertumpu pada angka makro tanpa pengujian yang lebih dalam—secara konsisten menjadi sumber langkah keliru yang mahal bagi pemain asing. Solusinya adalah disiplin. Benchmarking mendorong tim untuk menguji apakah sektor, geografi, dan model bisnis tertentu benar-benar mampu menghasilkan imbal hasil dengan tingkat risiko yang dapat diterima, dalam batasan modal yang jelas.
Dalam praktiknya, benchmarking berbeda dari riset pasar tradisional. Riset tradisional cenderung menggambarkan apa yang secara teori mungkin terjadi melalui tren umum dan proyeksi. Benchmarking berfokus pada hal yang bisa diamati secara komersial: di mana transaksi benar-benar terjadi, kompetitor mana yang sudah beroperasi dalam skala besar, seperti apa timeline regulasi dalam praktik, dan unit economics apa yang realistis mengingat struktur biaya lokal. Ini penting di emerging market, karena hambatan regulasi, kompleksitas distribusi, dan volatilitas mata uang dapat saling memperkuat risiko eksekusi. Sebuah kerangka 2025 tentang ekspansi ke ekonomi berkembang juga menekankan pendekatan sistematis yang menyeimbangkan responsivitas lokal, daya saing global, dan kinerja jangka panjang, sembari mencatat bahwa keragaman budaya dan fragmentasi sosial-politik dapat menimbulkan ketidakselarasan antara strategi global dan ekspektasi lokal.
Apa yang Perlu Dibandingkan Terlebih Dahulu: Kepemilikan, Perizinan, dan Standar
Mulailah dari aturan struktural yang menentukan mode masuk apa saja yang bahkan mungkin dilakukan. Iklim investasi Indonesia telah mengalami reformasi signifikan selama lima tahun terakhir, termasuk Omnibus Law on Job Creation (Law No. 11 of 2020) dan regulasi terkait. Pergeseran dari Negative Investment List yang restriktif menuju Positive Investment List yang lebih liberal, yang diperkenalkan melalui Presidential Regulation No. 10 of 2021 dan diubah lewat Presidential Regulation No. 49 of 2021, membuka lebih dari 200 sektor usaha untuk 100 persen kepemilikan asing yang sebelumnya dibatasi. Kerangka perizinan dikelola oleh BKPM (kini Kementerian Investasi) melalui sistem Online Single Submission (OSS) berbasis risiko, yang mengklasifikasikan kegiatan berdasarkan tingkat risiko dan menentukan urutan persetujuan. Benchmarking pada tahap ini berarti memverifikasi batas kepemilikan asing untuk kode KBLI yang dituju serta memetakan jalur persetujuan praktis yang tersirat dari kategori risiko OSS.
Berikutnya, lakukan benchmarking atas persyaratan kepatuhan yang dapat memengaruhi product-market fit dan time-to-market. ARC Group mencatat bahwa Indonesia National Standard (SNI) merupakan satu-satunya standar produk yang diwajibkan untuk 119 kategori produk, dan daftar tersebut belakangan bertambah, sehingga dukungan pihak ketiga disarankan agar informasinya tetap mutakhir. Pada lapisan go-to-market, ARC Group juga berpendapat bahwa mitra lokal bisa sangat krusial karena mereka dapat mewakili merek ke industri sasaran serta membantu menavigasi regulasi dan preferensi konsumen setempat. Karena itu, benchmarking atas lanskap mitra sebaiknya mencakup kejelasan peran, tanggung jawab regulasi, serta bagaimana mitra mendukung distribusi dan akses ke industri—bukan memperlakukan kemitraan sebagai sekadar kotak centang.
Terakhir, benchmark sinyal permintaan dan positioning kompetitif dengan wawasan lokal yang terarah. SIS International Research menekankan keragaman geografis Indonesia yang sangat luas dan kompleksitas budaya, serta memposisikan riset pasar sebagai cara untuk mengidentifikasi preferensi konsumen, memahami perbedaan regional, dan mendukung analisis serta positioning kompetitif. Standard Insights juga menyoroti insight konsumen berbasis survei, sembari mencatat ekonomi digital yang berkembang pesat dengan platform seperti Shopee dan Tokopedia sebagai pemimpin. Bagi tim yang melakukan benchmarking masuk pasar Indonesia, tujuannya adalah menghubungkan insight tersebut dengan pergerakan kompetitor yang terlihat, model monetisasi, dan kemitraan ekosistem. Sebuah siaran pers Ken Research menjelaskan benchmarking yang memetakan distribusi pangsa pasar, strategi akuisisi pengguna, model monetisasi, rencana ekspansi, dan kemitraan, sekaligus menguraikan topik navigasi regulasi seperti privasi data, kerangka perizinan fintech, serta inisiatif teknologi pemerintah yang dapat memengaruhi perencanaan strategis.
Mengapa perusahaan multinasional perlu melakukan benchmarking sebelum masuk ke Indonesia?
Perubahan hukum dan kebijakan apa saja yang perlu dimasukkan dalam benchmark masuk Indonesia?
Sistem operasional apa yang mengatur perizinan dan persetujuan bagi investor?
Bagaimana perusahaan sebaiknya melakukan benchmarking standar produk dan risiko kepatuhan?
Bagaimana menjalankan benchmarking masuk pasar Indonesia tanpa hanya mengandalkan headline makro?
Bicarakan kebutuhan Anda dengan kami di:
-
Riset Pasar
-
Perencanaan Strategis
-
Strategi Masuk Pasar
-
Merger dan Akuisisi
-
Analisis Rantai Nilai
-
Pembandingan Kompetitif
-
Distribusi & Kemitraan Strategis
-
Analisis Perilaku Konsumen