Indonesia makin sulit diabaikan oleh kelompok farmasi global karena cerita permintaannya kian jelas, dan semakin mengarah pada strategi produksi lokal. Skylight memperkirakan pasar farmasi Indonesia mencapai USD 11 miliar pada 2025, dan menyebut angka ini setara dengan 30–35% dari total belanja farmasi ASEAN. Skylight juga mencatat bahwa Indonesia menjadi pasar farmasi terbesar ketiga di ASEAN berdasarkan nilai pada periode 2020 hingga 2025, seiring sektor ini pulih dan melampaui laju pertumbuhan sebelum pandemi. Bagi produsen, kombinasi skala, momentum, dan relevansi regional tersebut membantu menjelaskan mengapa pemain internasional meningkatkan fokus manufakturnya di Indonesia.
Daya tarik kedua adalah bagaimana permintaan dibentuk oleh pengadaan, terutama untuk obat generik, yang dapat mendorong tingkat utilisasi tinggi setelah pemasok dinyatakan memenuhi kualifikasi. Skylight menyebut satu kanal menyumbang 55% dari total konsumsi obat dan membeli generik dengan harga 40–60% lebih rendah dibanding ritel. Dinamika ini “menjamin stabilitas volume”, namun juga menekan margin, sehingga mendorong perusahaan mencari efisiensi manufaktur dan ketahanan pasok lokal. Laporan obat generik dari IndexBox juga menggambarkan segmentasi permintaan berdasarkan kanal pengadaan, dengan menyoroti tender publik berskala besar untuk obat esensial yang dijalankan melalui Kementerian Kesehatan dan BPJS (JKN). Bagi perusahaan global dan mitranya, tender yang dapat diprediksi dapat memberi keuntungan bagi manufaktur yang terlokalisasi dan kesiapan kepatuhan.
Apa yang Membuat Manufaktur Lokal Menjadi Taruhan Strategis di Indonesia
Arah kebijakan dan regulasi Indonesia menjadi alasan lain mengapa lebih banyak modal mengalir ke penguatan kemampuan manufaktur domestik. Ringkasan pasar manufaktur dari Ken Research mengaitkan pertumbuhan dengan meningkatnya permintaan obat generik, inisiatif pemerintah untuk produksi lokal, naiknya belanja kesehatan, serta perluasan cakupan asuransi kesehatan. Sumber yang sama juga menyoroti standar pengendalian mutu yang semakin ketat dan penerapan sertifikasi Halal sebagai bagian dari lanskap regulasi yang terus berkembang, di samping kebijakan yang mendukung manufaktur lokal. Perubahan ini menguntungkan perusahaan yang berinvestasi lebih awal pada pabrik yang patuh regulasi, rantai pasok yang terkualifikasi, dan transformasi digital dalam proses manufaktur, ketimbang hanya mengandalkan impor produk jadi.
Sinyal terkuat bahwa Indonesia serius memperdalam manufaktur adalah dorongan ke arah API. Laporan pasar API dari Ken Research mencantumkan kuatnya dukungan pemerintah terhadap manufaktur farmasi lokal sebagai salah satu pendorong utama pasar. Laporan tersebut juga menyebut PT Kalbe Farma Tbk mengumumkan investasi sebesar USD 150 juta pada 2023 untuk memperluas kapabilitas manufaktur API. Selain itu, disebutkan bahwa pada 2024 pemerintah Indonesia membentuk kemitraan dengan organisasi kesehatan global dan mengamankan pendanaan sebesar IDR 100 miliar untuk mendukung manufaktur API lokal. Bagi perusahaan farmasi global, langkah-langkah ini menunjukkan bahwa basis industri Indonesia sedang diperkuat dari sisi hulu, membuka opsi kemitraan baru dan mengurangi ketergantungan pada satu sumber pasokan API dari luar.
Tekanan biaya dan daya saing menambah urgensi pada investasi semacam ini, sekaligus memperkuat logika untuk memproduksi lebih dekat dengan sumber permintaan. Skylight mencatat bahwa pada 2023, perbedaan harga untuk beberapa obat penyakit kronis antara Indonesia dan Malaysia mencapai +20–30% berpihak pada Malaysia, meski diproduksi oleh perusahaan yang serupa. Sumber yang sama merinci porsi permintaan berdasarkan terapi: kardiovaskular 14%, anti-diabetik 10%, respiratori 8%, onkologi 5%, dan lainnya (termasuk vitamin) 45%. Kategori yang besar dan stabil ini selaras dengan lingkungan pengadaan yang didominasi generik dan membantu menjelaskan gelombang pertumbuhan investasi farmasi di Indonesia saat ini, ketika pemain global menimbang keputusan membangun fasilitas sendiri versus bermitra untuk memenangkan tender, mengelola kepatuhan, dan bersaing dari sisi biaya.
Mengapa perusahaan farmasi global meningkatkan taruhan manufaktur di Indonesia?
Bagaimana pengadaan publik memengaruhi manufaktur obat generik di Indonesia?
Sinyal investasi atau pendanaan API terbaru apa yang mendukung produksi lokal?
Seperti apa pertumbuhan investasi farmasi di Indonesia dalam praktiknya?
Area terapi mana yang mengambil porsi besar konsumsi obat di Indonesia?
Bicarakan kebutuhan Anda dengan kami di:
-
Riset Pasar
-
Perencanaan Strategis
-
Strategi Masuk Pasar
-
Merger dan Akuisisi
-
Analisis Rantai Nilai
-
Pembandingan Kompetitif
-
Distribusi & Kemitraan Strategis
-
Analisis Perilaku Konsumen