Indonesia resmi bergabung dengan BRICS pada awal 2025, menjadi anggota pertama dari Asia Tenggara, menurut Wikipedia. Waktunya penting karena BRICS sendiri sedang berada dalam fase ekspansi, kini beranggotakan sepuluh negara: Brazil, China, South Africa, Egypt, Ethiopia, India, Indonesia, Iran, Russia, dan the United Arab Emirates. Pertanyaan setelah satu tahun bukan lagi apakah Indonesia mendapatkan panggung diplomatik baru, melainkan apakah hasil perdagangannya sepadan dengan langkah tersebut. UN Trade and Development (UNCTAD) menggambarkan BRICS sebagai jejaring koneksi Selatan-Selatan yang tumbuh cepat, namun juga menekankan bahwa kerja sama di level kebijakan masih membatasi potensi perdagangan penuh blok ini.
Dari sisi perdagangan, UNCTAD melaporkan bahwa perdagangan barang intra-BRICS meningkat lebih dari 13 kali lipat sejak 2003, dengan ekspor mencapai $1.17 trillion pada 2024. Pertumbuhan agregat ini menjadi konteks untuk menilai dampak perdagangan Indonesia di BRICS, karena menunjukkan pasar internal blok sudah besar dan masih terus berkembang. UNCTAD juga menyebut China sebagai penggerak utama dan, bersama Brazil, India, Indonesia, Russia, dan the United Arab Emirates, menjadi sumber arus perdagangan paling dinamis di antara para anggota. Namun UNCTAD mengingatkan bahwa jika dibandingkan dengan skala dan kapasitas negara-negara BRICS, potensi perdagangan intra-blok masih belum dimanfaatkan secara optimal.
Di Mana Keuntungan Perdagangan Terlihat Nyata—dan Di Mana Terlihat Terbatas
Bagi Indonesia, indikator ketergantungan versi UNCTAD menunjukkan paparan yang signifikan terhadap pasar BRICS, bukan sekadar hubungan pinggiran. UNCTAD menempatkan Brazil, Russia, dan Indonesia sebagai tiga negara yang paling bergantung pada pasar BRICS, dengan ekspor intra-BRICS menyumbang lebih dari 30% dari total ekspor mereka pada 2024. Ini mengindikasikan bahwa keterkaitan dagang Indonesia dengan blok tersebut sudah ada sebelum keanggotaan dan dapat memperkuat argumen bahwa partisipasi formal selaras dengan “tarikan gravitasi” perdagangan yang sudah berlangsung. Sebuah studi kualitatif terpisah di Journal of Social Research juga menyebut ekspor nonmigas Indonesia ke BRICS mencapai $84.37 billion pada 2024, dan menempatkan akses pasar sebagai manfaat nyata yang dibahas di kalangan kebijakan.
Namun laporan UNCTAD yang sama juga menjelaskan mengapa angka perdagangan yang lebih besar belum tentu berubah menjadi lompatan besar dalam hasil pembangunan. Di antara sepuluh anggota, tujuh negara—Brazil, Egypt, Ethiopia, Indonesia, Russia, South Africa, dan the United Arab Emirates—sangat bergantung pada produk primer untuk lebih dari 60% ekspor mereka ke sesama anggota BRICS. UNCTAD memperingatkan bahwa ketergantungan ini relatif tidak berubah selama dua dekade, menegaskan tantangan yang terus bertahan dalam transformasi struktural dan diversifikasi ekspor. Laporan itu mencatat beberapa negara, termasuk Egypt dan Indonesia, memang membuat kemajuan bertahap menuju diversifikasi dengan nilai tambah lebih tinggi, tetapi kemajuan tersebut digambarkan sebagai bertahap, bukan pergeseran yang menentukan.
Perdebatan geopolitik versus perdagangan juga dipengaruhi oleh cara para analis mendeskripsikan BRICS itu sendiri. Britannica menulis bahwa BRICS bertujuan meningkatkan integrasi dan koordinasi ekonomi serta geopolitik, tetapi kekuatan nyatanya dapat tergerus oleh masalah internal yang mendalam di negara-negara anggota inti. Artikel riset yang tersedia di ResearchGate juga berargumen bahwa manfaat ekonomi dari keanggotaan BRICS bisa jadi terlalu dibesar-besarkan karena Indonesia sudah memiliki relasi yang substansial dengan negara-negara BRICS dan turut aktif di forum multilateral lain, sementara keanggotaan juga menuntut penyeimbangan yang cermat antara sikap non-blok yang telah lama dipegang dan diplomasi yang berporos pada ASEAN. Setelah satu tahun, kesimpulan terkuat yang didukung oleh sumber-sumber tersebut adalah bahwa keterkaitan dagang Indonesia memang nyata, tetapi imbal hasil yang transformatif bergantung pada kemampuan mengatasi ketergantungan komoditas dan keterbatasan koordinasi yang hingga kini belum berhasil diselesaikan BRICS.
Kapan Indonesia resmi bergabung dengan BRICS?
Apa yang dikatakan UNCTAD tentang pertumbuhan perdagangan intra-BRICS?
Apa indikator paling jelas yang menunjukkan paparan perdagangan Indonesia di BRICS?
Apakah buktinya menunjukkan dampak perdagangan Indonesia di BRICS lebih didominasi komoditas atau diversifikasi?
Dalam sumber-sumber tersebut, keanggotaan BRICS lebih dibingkai sebagai isu ekonomi atau geopolitik?
Bicarakan kebutuhan Anda dengan kami di:
-
Riset Pasar
-
Perencanaan Strategis
-
Strategi Masuk Pasar
-
Merger dan Akuisisi
-
Analisis Rantai Nilai
-
Pembandingan Kompetitif
-
Distribusi & Kemitraan Strategis
-
Analisis Perilaku Konsumen