Industri Pariwisata Indonesia: Melampaui Bali dan Peralihan Berani ke Wisata Berkualitas
/ Wawasan / Artikel / Industri Pariwisata Indonesia: Melampaui Bali dan Peralihan Berani ke Wisata Berkualitas

Industri Pariwisata Indonesia: Melampaui Bali dan Peralihan Berani ke Wisata Berkualitas

Dipublikasikan pada: 26 Jun 2026 | Penulis: Marketing & Communications

Ekonomi pariwisata Indonesia memasuki fase baru, di mana “kualitas” dinilai sama pentingnya dengan total kedatangan semata. Hotel, resor, dan pelaku usaha lokal melaporkan tingkat hunian yang membaik serta belanja per wisatawan yang lebih tinggi, sejalan dengan strategi nasional yang menekankan durasi tinggal lebih panjang dan pengalaman bernilai lebih tinggi. Dorongan ini juga terkait dengan “pariwisata berbasis pengalaman,” sekaligus upaya meningkatkan standar keselamatan. Ini bukan hanya tentang Bali, meski Bali tetap menjadi penggerak utama. Pendekatannya adalah memperluas peta destinasi sekaligus meningkatkan pengalaman wisatawan dari awal hingga akhir—di sektor perhotelan, transportasi, dan ritel.

Proyeksi pasar menegaskan mengapa sektor ini kian disorot. Technavio memperkirakan ukuran pasar pariwisata dan hotel Indonesia akan bertambah USD 12.24 billion dengan CAGR 6.5% dari 2025 hingga 2030, dan mencatat segmen domestik bernilai USD 25.16 billion pada 2024. Proyeksi terpisah dari Market Report Analytics memperkirakan ukuran pasar sebesar $29.47 billion pada 2025, dengan CAGR 6.2% dari 2025 hingga 2033. Kedua sumber menempatkan pertumbuhan pada penguatan ragam produk wisata, perbaikan infrastruktur, serta pertimbangan keberlanjutan, sambil menyoroti risiko seperti ketidakpastian ekonomi global dan dampak lingkungan yang perlu dikelola secara aktif oleh pelaku industri.

Melampaui Bali: Gerbang, “Bali +1,” dan Destinasi Prioritas

Indonesia secara jelas berupaya menyebarkan permintaan melampaui pulau paling terkenalnya. Gerbang masuk yang sudah mapan seperti Jakarta, Bali, dan Batam/Bintan masih menyumbang sekitar 70% kedatangan internasional, menunjukkan akses yang masih sangat terkonsentrasi. Khusus perjalanan udara, Bandara Internasional Ngurah Rai di Bali tetap menjadi pintu masuk utama, disusul Bandara Internasional Jakarta–Soekarno–Hatta; keduanya mencakup hampir 90% dari seluruh kedatangan via udara pada November 2025. Respons kebijakan dilakukan lewat pengembangan terarah di destinasi seperti Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, Raja Ampat, dan Morotai, serta kawasan prioritas termasuk Danau Toba, Kepulauan Riau (Batam dan Bintan), dan Pulau Belitung. Untuk India, strategi “Bali +1” mendorong wisatawan menambah tujuan seperti Yogyakarta, didukung perluasan konektivitas udara.

Pariwisata berkualitas juga berarti kurasi program, bukan hanya mengandalkan pemandangan. Pada 2023, Kementerian Pariwisata Indonesia mendukung 99 event besar yang mencakup kegiatan nasional, internasional, dan MICE; rangkaian event ini menopang sekitar 260,000 lapangan kerja. Dari sisi permintaan, ASEAN tetap menjadi pasar sumber terbesar Indonesia, terutama untuk kunjungan berulang. Pada 2025, Malaysia menjadi kontributor terbesar, menduduki peringkat pertama dari bulan ke bulan dan menyumbang lebih dari 14–15% dari total kedatangan pada beberapa bulan, sementara Australia menyusul sebagai pasar terbesar kedua dengan permintaan rekreasi yang kuat, khususnya ke Bali. Ke depan, Indonesia menargetkan 16 hingga 17 million kedatangan wisatawan mancanegara pada 2026, dengan target yang diposisikan sejalan dengan pergeseran menuju perjalanan berbasis pengalaman, bukan sekadar mengejar angka.

Read also Menilik Industri Farmasi Indonesia: Pertumbuhan Cepat, Dorongan Lokalisasi, dan Realita Kepemilikan Asing

Para operator juga beradaptasi lewat teknologi dan pola tinggal yang baru. Technavio menyoroti bahwa visa digital nomad dan infrastruktur kerja jarak jauh untuk masa tinggal panjang mendorong permintaan, sehingga pengembang terdorong mengintegrasikan ruang co-working dan konektivitas berkecepatan tinggi. Sumber yang sama juga menggambarkan jaringan hotel yang menerapkan sensor pintar untuk pengendalian iklim dan sistem distribusi inventori otomatis, menghasilkan peningkatan efisiensi energi sebesar 14% dibanding infrastruktur pengendalian iklim lama. Seiring digitalisasi, pemposisian destinasi turut menekankan pengalaman, termasuk wellness. Indonesia masuk jajaran destinasi global terdepan untuk wellness, spa, dan pengobatan komplementer, dengan penawaran baru seperti yoga Jawa yang dikembangkan di luar Bali, termasuk di Solo dan Yogyakarta. Secara keseluruhan, langkah-langkah ini mendukung ekonomi pariwisata yang bisa bertumbuh sambil mengarahkan wisatawan pada pilihan perjalanan yang bernilai lebih tinggi dan lebih berkelanjutan.

Apa yang mendorong pergeseran Indonesia menuju “pariwisata berkualitas” ?

Sejumlah laporan menyebut tingkat hunian yang membaik dan belanja per wisatawan yang lebih tinggi, sejalan dengan strategi yang menekankan durasi tinggal lebih lama serta pengalaman bernilai lebih tinggi. Komunikasi pemerintah juga membingkai pergeseran ini sebagai pariwisata berbasis pengalaman dengan standar keselamatan yang ditingkatkan.

Seberapa terkonsentrasi kedatangan internasional Indonesia pada beberapa gerbang masuk?

Gerbang masuk yang sudah mapan seperti Jakarta, Bali, dan Batam/Bintan menyumbang sekitar 70% kedatangan internasional. Melalui jalur udara, Ngurah Rai (Bali) dan Jakarta–Soekarno–Hatta secara bersama-sama mencakup hampir 90% dari seluruh kedatangan via udara pada November 2025.

Destinasi mana yang dikembangkan untuk menyebarkan pariwisata melampaui Bali?

Pengembangan berlanjut di Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, Raja Ampat, dan Morotai, dengan kawasan prioritas termasuk Danau Toba, Kepulauan Riau (Batam dan Bintan), dan Pulau Belitung. Destinasi seperti Yogyakarta juga dipromosikan melalui strategi perjalanan “Bali +1”.

Apa kata proyeksi terkait pertumbuhan pasar industri pariwisata Indonesia?

Technavio memproyeksikan pasar pariwisata dan hotel akan bertambah USD 12.24 billion dengan CAGR 6.5% dari 2025 hingga 2030, serta melaporkan segmen domestik sebesar USD 25.16 billion pada 2024. Market Report Analytics memproyeksikan $29.47 billion pada 2025 dengan CAGR 6.2% dari 2025 hingga 2033.

Bagaimana teknologi mengubah operasional hotel di Indonesia?

Technavio mencatat bahwa visa digital nomad dan infrastruktur kerja jarak jauh untuk masa tinggal panjang mendorong permintaan akan ruang co-working dan konektivitas berkecepatan tinggi. Technavio juga menggambarkan jaringan hotel yang menggunakan sensor pintar pengendalian iklim dan sistem distribusi inventori otomatis, dengan peningkatan efisiensi energi 14% dibanding infrastruktur pengendalian iklim lama.

Buka potensi bisnis Anda di pasar yang dinamis bersama layanan konsultasi ahli kami.

Dengan lebih dari 40 tahun keunggulan, kami menghadirkan solusi inovatif yang disesuaikan dengan kebutuhan Anda.

Hubungi Kami Hari Ini
Hubungi Kami Hari Ini

/ Hubungi Kami

Mari diskusikan bagaimana kami dapat mendukung rencana ekspansi pasar Anda di Indonesia.

 

  • Tidak ada hasil ditemukan