Indonesia telah menguasai pengolahan nikel mentah. Pada 2025, fokus beralih ke sesuatu yang lebih besar: membangun Circular Loop untuk baterai EV bekas. Strategi ini memastikan pertumbuhan berkelanjutan, stabilitas industri jangka panjang, serta kepatuhan terhadap aturan ekspor dari Eropa dan pasar global lainnya. Seiring dunia bergerak menuju rantai pasok yang lebih bersih, daur ulang baterai EV Indonesia menjadi pilar berikutnya bagi daya saing nasional.
Mandat Daur Ulang Baterai EV Indonesia

Saat ini, daur ulang baterai di Indonesia masih bergantung pada fasilitas kecil yang tersebar. Operasi ini pun masih mengikuti aturan lama yang memperlakukan baterai sebagai limbah biasa, bukan material bernilai. Akibatnya, biaya transportasi antarwilayah di kepulauan meningkat dan proses pemilahan menjadi sulit karena baterai EV hadir dalam banyak jenis.
Pemerintah kini menyiapkan reset besar. Kebijakan baru, termasuk Peraturan Presiden No. 109/2025, merespons krisis sampah yang mendesak, dengan 60.99% sampah nasional tidak tertangani pada 2023. Aturan baru ini memperluas kerangka waste-to-energy agar mencakup baterai, serta memperkuat persyaratan daur ulang akhir masa pakai (end-of-life) di bawah regulasi yang sudah ada.
Para ahli menekankan perlunya panduan yang lebih jelas tentang cara mengumpulkan, memilah, dan memproses baterai EV bekas. Pemerintah juga telah menetapkan standar emisi untuk daur ulang baterai lithium guna mencegah polusi dari fasilitas industri baru. Secara bersama-sama, langkah-langkah ini mendorong Indonesia menuju ekosistem daur ulang yang lebih formal dan berkualitas tinggi.
Read Also: Kebijakan EV Indonesia Dorong Taruhan Clean Tech $14B, dan Lainnya
Peringatan Investasi: Perusahaan China Masuk ke Morowali
Morowali dengan cepat menjadi pusat lompatan industri berikutnya di Indonesia. China’s GEM Co. menyiapkan hingga $8 billion untuk membangun hub daur ulang di Indonesia Green Industrial Park. Tahap pertama, senilai $2 billion, berfokus pada daur ulang nol emisi untuk lithium, kobalt, dan material rare earth.
GEM sudah punya pengalaman di sana. Perusahaan patungannya, QMB, merupakan bagian dari hilirisasi nikel Indonesia dan memiliki rekam jejak kuat, dengan mendaur ulang lebih dari 10% baterai bekas dan e-waste di China. Pabrik baterai yang didukung China di IMIP Morowali juga menargetkan mulai beroperasi pada 2025.
Investasi ini mendukung visi hilirisasi Indonesia yang lebih luas, termasuk proyek baterai EV senilai IDR 96.04 trillion dengan pabrik lithium-ion yang direncanakan di Karawang. Fasilitas ini akan dimulai dengan kapasitas 10 GWh, meningkat menjadi 20 GWh, dan memproduksi lebih dari 32.6 million cells setiap tahun.
Read Also: Bagaimana Masuknya EV China ke Indonesia Mengubah Persaingan di Pasar
Kepatuhan Global: Memenuhi Standar US IRA
Langkah Indonesia masuk ke sektor daur ulang juga memiliki tujuan global. US Inflation Reduction Act (IRA) memberikan $7,500 tax credit untuk EV yang mineral baterainya diproses di AS atau di mitra perdagangan bebas seperti Indonesia, atau yang komponennya sebagian dibuat di Amerika Utara.
Bagi eksportir, kepatuhan terhadap IRA adalah keunggulan besar. Material hasil daur ulang dari fasilitas baru GEM meningkatkan ketertelusuran, sehingga membantu produk Indonesia memenuhi persyaratan energi bersih yang ketat.
Daur Ulang Baterai EV Indonesia: Menggerakkan Masa Depan dengan Kekuatan Sirkular
Bab industri Indonesia berikutnya melampaui nikel. Indonesia membangun ekosistem sirkular yang menggunakan kembali material, memenuhi standar global, dan menarik investasi besar. Seiring daur ulang baterai EV Indonesia melaju, perusahaan yang berencana masuk ke sektor yang bergerak cepat ini dapat mengeksplorasi dukungan lebih lanjut dari Market Research Indonesia, bagian dari perusahaan global Eurogroup Consulting, yang berpengalaman membimbing transformasi energi, keberlanjutan, dan industri.
FAQs
1. Mengapa daur ulang baterai EV penting bagi Indonesia?
Hal ini mendukung keberlanjutan, mengurangi sampah, dan memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasok EV global.
2. Regulasi baru apa yang mendukung daur ulang?
Kebijakan seperti Peraturan Presiden No. 109/2025 dan pembaruan aturan limbah B3 mendorong daur ulang baterai yang lebih terstruktur.
3. Siapa yang berinvestasi di sektor daur ulang Indonesia?
China’s GEM Co. memimpin dengan rencana senilai $8 billion di kawasan industri hijau Morowali.
4. Bagaimana posisi Indonesia dalam persyaratan US IRA?
Mineral hasil daur ulang dari Indonesia membantu memenuhi standar ketertelusuran dan energi bersih sesuai IRA.
5. Apa itu Circular Loop?
Ini adalah rencana daur ulang baterai EV Indonesia untuk menggunakan kembali material baterai EV dan memperkuat keberlanjutan jangka panjang.
Bicarakan kebutuhan Anda dengan kami di:
-
Riset Pasar
-
Perencanaan Strategis
-
Strategi Masuk Pasar
-
Merger dan Akuisisi
-
Analisis Rantai Nilai
-
Pembandingan Kompetitif
-
Distribusi & Kemitraan Strategis
-
Analisis Perilaku Konsumen